Saat ada waktu senggang, penulis terbiasa membuka-buka dokumen tulisan lama yang pernah dibuat. Salah satunya, tulisan dengan judul Filateli Tetap Ada dan Tetap (Bisa) Menarik, yang penulis buat untuk sebuah lokakarya filateli di Yogyakarta, beberapa tahun lalu.
Dalam tulisan itu, penulis mengungkapkan bahwa saat itu ada yang bilang perkembangan filateli atau hobi mengumpulkan dan mempelajari prangko dan benda pos lainnya di Indonesia, sedang terpuruk. Lokakarya yang diadakan di Yogyakarta, juga merupakan salah satu cara untuk membangkitkan gairah masyarakat untuk lebih apresiatif terhadap filateli, yang pada gilirannya mampu membangkitkan kembali dunia filateli Indonesia.

Penulis juga mengungkapkan pengalaman menarik ketika berlangsungnya Pameran Filateli “Indonesia ‘96″ yang diadakan di gedung kantor pusat PT Pos Indonesia di Jalan Banda, Bandung, pada 1996. Saat itu, penulis sebagai Komisioner Nasional Indonesia (wakil Indonesia yang bertugas mengkordinir koleksi peserta Indonesia), sempat berbincang-bincang santai dengan sejumlah komisioner nasional dari negara-negara lainnya.
Di antara topik yang dibicarakan adalah masa depan filateli yang pernah dijuluki sebagai “rajanya hobi” (the kings of the hobby). Ada yang mengkhawatirkan bahwa filateli akan semakin dilupakan, karena penggunaan prangko semakin sedikit. Walaupun filatelis bukan hanya mengumpulkan prangko saja, tetapi harus diakui bahwa prangko termasuk benda utama yang dikoleksi para filatelis.
Bayangkan, saat itu (apalagi saat ini) penggunaan internet sudah mulai banyak. Orang lebih senang menggunakan e-mail untuk berkirim surat, daripada suratpos yang menggunakan prangko. Pesan juga dapat dikirim lewat pager (saat itu), dan kini bahkan lewat fasilitas SMS dan MMS di telepon genggam. Bila perlu, orang bahkan lebih memilih berbicara langsung lewat telepon dengan orang di kota lain, daripada merepotkan diri mengirim suratpos.
Indikasi semakin sedikitnya penggunaan prangko juga dapat dilihat dari jumlah prangko yang diterbitkan Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi, sebagai instansi pemerintah yang memegang hak menerbitkan prangko. Bila pada tahun 1980-an, satu seri prangko dicetak sekitar 1 juta bahkan pernah 2 juta keping, kini jumlah cetakannya hanya berkisar 300.000 sampai 500.000 keping saja.
Jadi, apakah betul bahwa semakin sedikitnya prangko, akan menyebabkan filateli juga semakin menyusut? Jawabnya, (seharusnya) tidak. Hobi mengoleksi sesuatu benda bahkan sebagian semakin meningkat bila jumlah benda yang dikoleksi semakin terbatas. Bendanya menjadi langka, padahal peminatnya banyak. Hal itu menyebabkan nilai bendanya semakin tinggi, dan semakin banyak lagi yang “memburu” berusaha mendapatkan benda tersebut.
Pada intinya, masa depan filateli tetap cerah. Hobi itu tak akan ditinggalkan orang, walaupun mungkin suatu saat prangko sudah tak diterbitkan lagi. Contoh paling mudah adalah melihat kolektor benda-benda keramik kuno Cina atau kolektor mata uang logam (koin) dari masa sebelum Perang Dunia II. Walaupun sudah tak dibuat lagi, kolektornya tetap banyak. Bahkan tiap saat ada saja kolektor baru yang ikut menambah jumlah mereka yang hobi mengoleksi benda-benda itu.
Menambah Wawasan
Sebagai suatu hobi, filateli memang dapat pula menjadi wahana rekreasi bagi para penggemarnya. Bila seseorang sudah menyenangi mengumpulkan prangko dan benda pos lainnya, melihat-lihat kembali koleksi yang dimiliki merupakan rekreasi yang menyenangkan, dapat menghilangkan stres setelah lelah bekerja atau bersekolah seharian.
Namun filateli bukan sekadar wahana rekreasi saja. Melalui filateli, kita juga dapat menambah wawasan kita dalam segala hal. Coba saja amati gambar yang tertera pada suatu prangko. Misalnya, prangko bergambar tokoh terkemuka. Tentu kita tak hanya berhenti sampai di sini saja, tetapi berusaha mengetahui lebih jauh mengenai tokoh itu. Hal tersebut membuat kita mencari data mengenai tokoh bersangkutan, yang pada gilirannya menambah pengetahuan kita tentang tokoh tersebut.
Lihat juga prangko flora dan fauna. Kita dapat melihat bentuk dan warna beragam tumbuhan dan hewan dengan namanya yang tercetak pada prangko itu. Bahkan sejumlah negara, seperti Indonesia, seringkali mencantumkan juga nama Latin dari tumbuhan atau hewan yang ditampilkan pada prangko. Hal itu tentu menambah pula pengetahuan kita.
Perhatikan pula cap (stempel) pos yang dibubuhkan pada prangko. Kita dapat melihat nama kota pada cap pos itu. Lalu, kita dapat mencari tahu kota itu terletak di mana, dan mungkin juga beberapa hal penting mengenai kota itu. Misalnya, penghasilan utama penduduk kota itu, tempat-tempat bersejarah di kota itu, dan lainnya.
Jangan pula dilupakan Sampul Hari Pertama (SHP) atau Sampul Peringatan (SP) yang bisa dibeli di loket-loket filateli pada kantor-kantor pos besar, terutama di ibu kota provinsi. Kita dapat mengamati gambar dan keterangan tertulis yang dicetak pada kedua sampul itu, yang pastinya juga dapat memperkaya pengetahuan kita.
Masih banyak lagi yang dapat dilakukan, seperti memperluas persaudaraan antarsesama filatelis, dengan bergabung di berbagai perkumpulan filateli di dalam dan luar negeri. Apalagi kalau diingat, jumlah filatelis saat ini diperkirakan lebih dari 25 juta orang di seluruh dunia. Lewat saling berkirim surat, tukar-menukar benda filateli, dan bersahabat dalam kegiatan-kegiatan filateli, kita dapat membantu dibangunnya saling memahami dan saling pengertian antarbangsa. Pada gilirannya, hal itu dapat juga membantu terciptanya dunia yang lebih damai dan bersahabat bagi semua bangsa.
Lewat filateli pula kita dapat semakin memperkuat jatidiri kita sebagai bangsa yang besar. Misalnya, mengikuti pameran filateli yang sifatnya kompetisi di mancanegara. Kita dapat menunjukkan bahwa kemampuan filatelis Indonesia tak kalah dengan yang lain. Selain itu, seperti telah disebutkan sebelumnya, dengan mempelajari beragam benda filateli terbitan Indonesia, dapat lebih menambah wawasan dan pengetahuan kita mengenai keragaman yang ada di negeri kita tercinta.
Begitulah intisari tulisan yang rasanya (dan mudah-mudahan) sampai saat ini masih tetap berarti.
Oleh: Berthold Sinaulan
Sumber : Wikimu.com

About these ads