Ini keluhan seorang kolektor prangko yang juga dikenal dengan sebutan filatelis. Sang filatelis yang bertempat tinggal di Jakarta itu mengeluh, “Katanya filatelis bersaudara dan terus mengembangkan wawasan serta persaudaraan seluas dunia, tanpa memandang suku, agama, ras, dan antargolongan. Tapi gara-gara penerbitan prangko seri 12 Lambang Shio, malah ada filatelis yang tidak senang dan sampai cenderung mengancam segala,…” Lho, kok?


Keluhan itu ternyata memang terkait dengan prangko seri 12 Lambang Shio yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi, sebagai instansi pemerintah yang berhak menerbitkan prangko di Indonesia, pada 14 Februari 2007.
Penerbitan prangko itu ternyata menimbulkan silang sengketa di kalangan filatelis. Harian Umum Suara Pembaruan dalam edisi Minggu 11 Februari 2007, menurunkan features berjudul Prangko Paling Kontroversial dalam Sejarah yang ditulis oleh koresponden Suara Pembaruan di Bandung, Adi Marsiela. Dalam tulisan itu disebutkan antara lain, “Ada catatan menarik ketika komunitas Tionghoa di Indonesia  menyambut Imlek atau tahun baru yang jatuh pada tanggal 18 Februari mendatang. Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi bakal menerbitkan prangko seri “12 Lambang Shio” atau lazim disebut astrologi China. Penerbitan prangko jenis ini merupakan yang pertama kalinya di Indonesia. Sebelumnya, tak pernah ada prangko yang terkait dengan etnis Tionghoa dalam sejarah filateli Indonesia.”
Dituliskan pula, “Yang menarik dari prangko ini bukan hanya karena pertama kalinya diluncurkan di Indonesia. Proses merancang prangko ini tergolong lama. Biasanya, prangko yang akan diterbitkan itu menjalani proses revisi paling banyak tiga kali sedangkan khusus untuk prangko seri shio ini, revisinya mencapai tujuh kali. Ini paling kontroversial.”  
Harian Umum Pikiran Rakyat menuliskan pula mengenai kontroversi seputar penerbitan prangko tersebut. Tulisan berudul Riwayat Prangko itu ditulis oleh Eriyanti Nurmala Dewi, wartawan Pikiran Rakyat dalam suratkabar itu edisi Selasa 20 Februari 2007. Dalam tulisan itu terungkap, “Desain awal prangko pun selesai dibuat. Desain ini mulai dipajang pada pameran dan kongres nasional lima tahunan Perhimpunan Filatelis Indonesia (PFI) yang diselenggarakan Desember 2006 di Bandung. Namun apa yang terjadi? Menuai kontroversi!”
Diteruskan oleh penulisnya, “Sebagian peserta kongres tidak setuju dengan contoh prangko shio ini. Beberapa dari mereka mulai menyebar bisik-bisiknya kepada peserta lain sehingga angin penolakan pun berembus sampai dibawa ke daerah pascakongres. Beberapa daerah yang tidak setuju mengipas-ngipas daerah lain. Tak ayal, milis PFI pun riuh dengan pro-kontra ini. SMS panas bersliweran. Bahkan, loket-loket di sejumlah Kantor Pos pun dipenuhi surat-surat bernada sama. Nada surat itu bukan lagi tidak bersetuju, tetapi mengancam.” Waduh!
Walaupun ada sedikit kesalahan pada tulisan wartawan Pikiran Rakyat dengan menyebutkan Perhimpunan Filatelis Indonesia yang seharusnya Perkumpulan Filatelis Indonesia (PFI) dan juga penyebutan milis PFI yang seharusnya milis prangko, namun secara keseluruhan tulisan yang dimuat di Suara Pembaruan dan Pikiran Rakyat itu ada benarnya.
Kepala Unit Filateli PT Pos Indonesia, Abdussyukur yang mengkordinasikan pembuatan desain prangko itu, terpaksa harus mengubah berkali-kali gambar desainnya. Pada akhirnya, tidak ada lagi gambar babi dalam prangko utama, dan lebih dipilih gambar lampion serta anak-anak berpakaian tradisional China di depan pintu gerbang sebuah kelenteng. Gambar babi yang sudah distilir sedemikian rupa sehingga tidak lagi tampak seperti babi, hanya tampil bersama binatang-binatang lainnya yang dikenal dalam shio dalam souvenir sheet atau lembar kenangan dan cap atau stempel pos khusus hari terbit pertama prangko seri itu.
Itu pun masih mengalami hambatan. Walaupun demikian, setelah melakukan berbagai pendekatan, prangko 12 Lambang Shio yang dalam Bahasa China disebut Cap Ji Xio atau dalam Bahasa Inggris disebut Chinese Zodiac Sign, akhirnya jadi juga diterbitkan.
Suatu hal yang masih menjadi pertanyaan beberapa filatelis adalah, “Mengapa penerbitan itu dimasalahkan, sementara Pemerintah RI sendiri sudah menganggap Hari Raya Imlek sebagai salah satu hari penting nasional. Bahkan Presiden RI, sejak Abdurrahman Wahid sampai Susilo Bambang Yudhoyono saat ini, juga menghadiri perayaan Imlek Nasional?”
Mereka juga mempertanyakan sikap sebagian filatelis yang menolak penerbitan itu. Padahal cita-cita pendirian Perkumpulan Filatelis Indonesia oleh para pendahulu filateli itu, sebagaimana tercantum dalam Anggaran Dasar-nya antara lain berbunyi, “Sejak lahirnya PFI bukan merupakan organisasi politik, melainkan suatu organisasi hobi yang bersifat nasional, tidak mencari keuntungan, dan terbuka untuk seluruh warga negara Indonesia pria dan wanita, tua maupun muda tanpa membeda-bedakan status sosial, tingkat kehidupan, kedudukan/jabatan maupun agama. Organisasi ini bertujuan untuk memajukan dan mengembangkan filateli dalam arti seluas-luasnya di seluruh tanah air serta mempererat hubungan, memperluas wawasan, menjalin persaudaraan dan persahabatan serta meningkatkan kerja sama antar filatelis baik nasional maupun internasional.”
Besar harapan kita, di masa mendatang, para filatelis di Indonesia dapat semakin maju, semakin tinggi pengetahuan filatelinya, dan sekaligus semakin mempererat persahabatan dan persaudaraan seluas dunia.

Oleh: Berthold Sinaulan
Sumber : Wikimu.com

Iklan