Tag

, , , , ,

Beberapa waktu yang lalu saya pernah mampir berkunjung ke beberapa rekan saya yang dulu sempat menjalankan bisnis MLM. Saya ingat betul rekan saya ini begitu fanatiknya baik itu kepada perusahaan MLM dan support sistemnya maupun kepada harapan akan impian yang dia cita citakan. Impiannya sih tidak muluk muluk, yaitu ingin bebas finansial dan meraih semua reward yang di berikan perusahaan MLM tersebut. Hmmmmm suatu hal yang luar biasa ya. Kalau saya boleh menilai sih, untuk pemula alias pelaku bisnis MLM yang baru terjun adalah hal yang wajar jika ingin meraih semua apa yang diimpikan atau dicita citakan, tapi bagi pelaku MLM yang sudah makan asam garam dunia bisnis MLM atau sudah pernah malang melintang di beberapa bisnis MLM sih suatu yang biasa biasa saja.

Rekan saya ini menceritakan kepada saya bahwa dia sudah tidak menjalankan bisnis MLM lagi, alasanya simpel dan sederhana yaitu capek. Capek ngikutin pertemuan ke pertemuan, capek ngeluarin duit terus untuk ikut pertemuan, capek meeting sampe pagi buta (alias meeting gak jelas), capek mbohongin prospekan, capek ini dan capek itu.

Wah berarti rekan saya ini tidak fokus pada impiannya donk, dan gampang sekali nyerah. Berarti dia bukan orang yang positif dan hanya mengeluh saja atau istilah kerenanya tidak berani gagal (dare to fail). Mungkin begitu tanggapan dari pelaku MLM yang over positif thingking.

Tapi menurut saya, yang perlu di perhatikan dalam berbisnis MLM sebenarnya adalah :

1.    Tau dan mengerti bahwa bisnis yang anda jalankan adalah bisnis MLM

Konsep MLM adalah mengajak orang untuk menjual barang tetapi dengan cara sedemikian rupa—sehingga orang tidak membeli karena dipaksa atau dimanipulasi—tetapi karena mendapatkan value dari barang tersebut. Value itu tidak hanya dalam hal produk, tetapi juga cara penyampaian, pendekatan, atau cara menawarkan, dll. Pelanggan membutuhkan sesuatu yang bisa meyakinkan mereka, bahwa produk itu benar-benar memenuhi kebutuhan mereka.

Coba anda lihat pada awal 90-an, produk suatu MLM dijadikan sebagai alat penggerak pertama dan yang utama. Anda sekalian sebagai pelaku MLM haruslah kembali kepada hakikat awal yaitu produk sebagai the way of marketing. Karena tujuannya adalah supaya suatu produk berpindah tangan dari produsen ke end user (konsumen akhir/pemakai). Marketing itu adalah suatu sistem komunikasi untuk mempengaruhi massa supaya mereka tertarik dengan produk MLM, dengan mengedepankan value.

 

 

2.    Tau dan mengerti bahwa produk dan marketing plan harus berjalan bebarengan

 

MLM yang baik seharusnya lebih menekankan pada sisi Marketing-nya (sesuai dengan pakem awal), dan harus dibedakan dengan Multi Level Rekrut  (mengandalkan rekrut semata untuk mengejar bonus dan reward) atau apapun sejenisnya. Bahasa sederhananya begini :

 

“kamu harus menjual produk ini sekian rupiah untuk mendapatkan bonus retailnya, nah kalau kamu bisa mengajak seseorang yang juga mau menjual produk tersebut dan membentuk suatu penjualan grup maka bonus yang kamu dapat semakin meningkat.”

 

Namun, untuk saat ini malah kebalik, contohnya seperti ini :

 

“Kamu belanja dulu sekian rupiah terus nanti kalau kamu merekrut orang kamu suruh juga dia belanja sekian rupiah, nah nanti kamu dapet bonus deh.”

 

Perbedaan contoh di atas terletak pada kata menjual dan belanja. Jadi terserah pada anda sekalian mau pakai yang mana, hasil akhirnya tentu akan berbeda.

 

Kalau produk sudah di gunakan secara baik sebagai the way of marketing maka menjalankan marketing plan akan berjalan dengan sendirinya.

 

Pelajarilah marketing plan secara lengkap dan jelas, tanyakan secara kritis kepada orang yang menjelaskan anda atau upline anda (jika anda sudah bergabung) mengenai rule of the game-nya mulai dari syarat memperoleh bonus, syarat tutup point, omzet grup, side volume, cara mengantisipasi syarat-syarat untuk memperoleh reward-reward, yang terkadang hal semacam inilah jarang dibeberkan. Jangan terpancing oleh banyaknya bonus/komisi sebab semakin banyak bonus/komisi maka persyaratan untuk memperolehnya sangat berat dan sulit.

 

Anda harus juga menggabungkan cara penjualan produk (selling) dengan rekrut (marketing plan) secara proporsional dan seimbang (jangan berat sebelah). Jadikanlah proses rekruting sebagai dasar untuk membentuk organisasi bisnis penjualan produk (meningkatkan omzet) dan bukan sebaliknya bahwa proses rekruting hanya untuk memperoleh bonus bonus dan bonus saja.

 

3.    Bisnis MLM = bisnis pada umumnya

Dalam dunia bisnis konvensional entah itu anda buka toko kelontong, loundry, rumah makan, cuci mobil dan motor, adalah sangat penting dalam mengetahui aliran cash flow alias aliran pemasukan dan pengeluaran uang di dalam setiap transaksi penjualan. Intinya pemasukan harus lebih besar ketimbang pengeluaran agar memperoleh keuntungan.

Nah hal ini sama saja jika kita berbisnis MLM, anda juga harus punya itung itungan layaknya bisnis konvensional yaitu berapa pemasukan (bonus) dan berapa pengeluaran anda tiap bulannya. Usahakan jangan sampai minus alias rugi atau nombok. Itu mah bukan bisnis namanya.

Jika anda merasa bisnis MLM kok malah menguras pengeluaran terus ketimbang memberikan pemasukan lebih baik anda berpikir ulang apakah anda mau lanjut berbisnis MLM atau tidak. Dan ingat business is business. Bisnis perlu perhitungan untung dan rugi.

 

4.    Bisnis MLM adalah bisnis kepercayaan.

Tujuan utama seorang bisnis MLM yang paling utama dan terutama adalah mendapatkan uang atau bonus. Ya, memang tidak ada salahnya dengan itu, namun perlu diingat sekali lagi bahwa bisnis MLM adalah tidak membuat atau menjadikan anda kaya entah itu secara instan.

Banyak orang menyalah artikan bisnis MLM identik dengan kaya secara cepat, penghasilan puluhan juta hingga miliyaran rupiah, tidak usah kerja lagi uang tetap mengalir (passive income), uang mengejar untuk anda, tapi semua itu percuma kalau anda tidak memiliki satu hal yang tidak anda pegang sebagai pegangan anda berbisnis MLM, kira-kira apa ya?? Mau tahu???……….ya betul…namanya adalah KEPERCAYAAN kalau orang barat bilang TRUST.

Bisnis adalah kepercayaan

Jangankan memiliki impian kaya raya, dapet mobil mewah, jalan jalan keluar negeri setahun 2 kali, rumah mewah, tabungan banyak, semuanya akan sia sia dan hilang begitu saja kalau anda tidak memberikan sisi kepercayaan atau trust atas bisnis MLM yang anda jalankan baik itu ke downline anda maupun ke orang lain (yang bukan member MLM) maka hasilnya adalah keributan, pertengkaran, saling memaki dan menjelekkan, jatuh miskin, nama menjadi jelek, di penjara, di teror, diancam, dan sebagainya.

Mau anda jadi begitu? Kalau ndak mau ya jalankan bisnis MLM dengan bermodalkan asas kepercayaan dong, jalankan sesuai dengan etika bisnis dan kode etik yang sudah diatur oleh perusahaan MLM dan APLI.

 

Ok bung. Semoga pelaku MLM yang masih bandel agar cepat berubah dan bertobat.

Iklan