Tag

, , , , , , , , , , , ,

Fenomena para pelaku MLM yang menggunakan istilah franchise ataupun personal franchise dalam menawarkan bisnisnya kepada sang prospek memang sedang getol-getolnya. Kenapa mereka bisa menyamaratakan maksud MLM dengan istilah Franchise atau Personal Franchise? Apakah mereka (pelaku MLM) menggunakan istilah franchise atau personal franchise agar dapat mempermudah dalam mem-prospek orang atau malah untuk mempermudah menipu sang prospek sehingga merasa terjebak? Atau para pelaku MLM merasa minder/malu menawarkan secara terang-terangan nama perusahaan bisnis MLM-nya? Saya bisa jawab pasti IYA.

Perbedaan antara franchise dan MLM adalah serupa tapi tak sama, begitu yang diungkapkan oleh Bapak Burang Riyadi, seorang konsultan bisnis waralaba dari International Franchise Business Management (IFBM). Saya menyempatkan waktu untuk mengirim email kepada beliau, berikut pendapat beliau :

Saya : Menurut Bapak, apa tanggapan Bapak mengenai penggunaan istilah franchise atau personal franchise yang digunakan pelaku MLM dalam memprospek orang belakangan ini bisa dikatakan beretika atau justru akan menimbulkan efek yang tidak baik bagi bisnis franchise/waralaba yang sebenarnya?

Burang Riyadi : Tentunya dengan adanya berbagai definisi dan presepsi yang berbeda-beda tentang suatu istilah akan membingungkan orang-orang yang berkepentingan. Demikian juga dengan Franchising. Jika ada definisi yang berbeda-beda dan presepsi yang berbeda juga pasti akan membingungkan yang berkepentingan dengan pengusaha yang menggunakan istilah Franchising. Hal demikian bisa terjadi karena tidak adanya (per)aturan yang baku dari otoritas yang ada.

Syukur Alhamdulillah, saat ini Indonesia mempunyai Peraturan Pemerintah no.42 tahun 2007 tentang Franchise/Waralaba, yang mengatur tentang definisi dan kriterianya. Sehingga, istilah franchising menjadi lebih baku dan ada landasan hukumnya. Bila ada orang menggunakan istilah Franchising tetapi tidak sesuai dengan peraturan pemerintah, maka akan ada sangsinya dan bisa didenda hingga Rp 100 juta. Tinggal sekarang pemerintah harus menerapkan peraturannya dengan disiplin.

…………………………..

 

(Saya cerita sedikit tentang MLM; sebenarnya MLM adalah strategi marketing yang sangat ampuh luar biasa untuk memasarkan suatu produk dengan cepat. Tetapi dengan sistemnya yang dapat menarik uang downliner-nya dimuka dengan mudah, serta menerapkan margin yang tinggi (supaya bisa dibagikan komisinya kepada beberapa lapis downline-nya), membuat beberapa oknum pelaku usaha menerapkan malpraktek yang merugikan para anggotanya. Misalnya: setelah uang terkumpul, pengusaha induknya menghilang. Atau ada pelaku yang menerapkan MLM tanpa produk yang konkret alias money game saja. Situasi ini membuat banyak orang menjadi tidak bersimpati, sehingga image (citra) dari sistem MLM yang luar biasa tadi menjadi buruk. Sistemnya bagus, tetapi cara-cara melakukan usahanya tidak baik. Alhasil, banyak orang yang tidak bersimpati dengan MLM secara umum. Citranya menjadi buruk. Maka perlu diatur dalam suatu peraturan agar efeknya tidak merugikan dan citranya tidak jatuh.

            Demikian juga dengan Franchising. Jika istilah Franchising juga tidak ada aturannya, bisa terjadi hal yang sama dengan MLM. Dibeberapa negara yang tidak mempunyai peraturan Franchise, terjadi hal-hal yang tidak jelas seperti di atas, sehingga citra dari Franchising menjadi kurang baik. Akibatnya, banyak orang yang ditawari franchise menjadi tidak suka atau tidak nyaman. Misalnya saja di Singapore pada 2 hingga 3 tahun lalu. Karena tidak ada peraturan pemerintah, maka banyak orang menawarkan franchise tetapi tidak bertanggung jawab.)

            ………………………..

            Saya : Apakah pelaku MLM tersebut bisa dikatakan melakukan tindakan penipuan kepada sang prospek?

Burang Riyadi : Jika sudah melanggar Peraturan Pemerintah tentu saja bisa dikatagorikan penipuan.

           

Saya : Sebenarnya apa sih perbedaan dan persamaan antara MLM dengan Franchise/waralaba?

Burang Riyadi : Persamaannya: 1) Sama-sama merekrut anggota jaringan. 2) Sama-sama menerima bagi hasil.

Perbedaannya: 1) Franchise/waralaba menjual (format) business concept dan bukan produk. 2) Franchise/waralaba tidak menjual secara multi level marketing (kecuali Master Franchise yang meneruskan kepada 1 level sub franchisee-nya). 3) Franchise/waralaba mempunyai kriteria khusus seperti yang tercantum pada PP. No.42 th 2007 tentang franchise/waralaba.

 

Saya : Apa saran bapak kepada para pelaku MLM yang menggunakan istilah atau kata franchise atau personal franchise dalam melakukan presentasi bisnis MLM-nya?

Burang Riyadi : Saran saya harusnya jangan dilakukan lagi. Karena sekarang sudah ada peraturannya. Kalau bisa mengundang calon anggota dengan tetap memperkenalkan istilah MLM, itu artinya memang bisnisnya yahuuud..!

 

Itulah beberapa hasil petikan wawancara dengan Bapak Burang Riyadi yang saya lakukan lewat email. Alasan kenapa saya sampai sejauh itu mewawancarai seorang pakar di bisnis franchise atau waralaba? Saya bermaksud agar anda sekalian mengerti bahwa MLM dan Franchise/waralaba memiliki persamaan dan perbedaan, tapi alangkah bodohnya jika ada pelaku MLM dalam melakukan aksi mengundang atau mempresentasikan bisnis MLM-nya dengan menggunakan istilah franchise atau waralaba akan tidak dibenarkan dan semuanya sudah ada peraturan pemerintah yang harus ditaati bersama.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Bapak Anang Sukandar, beliau adalah ketua Asosiasi Franchise Indonesia. Beliau mengatakan perihal penggunaan istilah personal franshise yang sebenarnya istilah seperti itu tidak ada. Tulisan artikrl beliau ada di majalah INFO FRANCHISE edisi bulan desember 2008 ini. Silahkan anda beli dan baca. Entar dikira saya melakukan fitnah, atau menjelekkan MLM lain yang merasa tersinggung….he he he he. Majalahnya murah sekali kok hanya Rp. 35,000.

Masih mau pake istilah PERSONAL FRANCHISE!!!! Atau langsung aja deh jujur ngomong “INI BISNIS MLM”???

BERANI MENERIMA TANTANGAN !!!!

Iklan