Tag

, , , ,

Masuk ke dalam dunia bisnis, apapun jenisnya, pastinya anda harus menyiapkan mental yang kuat untuk menghadapi sebuah resiko gagal maupun sukses. Sama halnya jika anda memutuskan untuk menggeluti bisnis MLM. Tidak hanya bermodalkan uang, impian, daftar nama, melainkan mental anda juga perlu diperhatikan.

Apa yang akan terjadi jika ternyata mental anda tidaklah kuat dalam menjalankan bisnis MLM? yang pasti anda akan keluar dan menjalankan bisnis atau mencari kerja yang anda dambakan sebelum anda memutuskan untuk berbisnis MLM. bukankah begitu?

Tidak ada yang dinamakan untung dan rugi di bisnis MLM. Jika anda gagal di bisnis MLM anda tidak akan mengalami kebangkrutan atau langsung jatuh miskin. Jika anda berhasil menjalankan bisnis MLM maka nasib anda akan berubah,

Di bisnis MLM, bisanya proses pembelajaran dilakukan sedikitnya selama setahun. Selama itu pelaku bisnis ini dididik bagaimana cara meraih kesuksesan, berkomunikasi yang baik, prinsip kepemimpinan, keahlian manajemen, membangun kerjasama tim dan lain-lain. Berbekal semua itu diharapkan pelaku bisnis MLM bisa menjadi leader yang mampu menduplikasikan dirinya kepada segenap downline di jaringannya, serta dapat merasakan rintangan-rintangan yang dihadapinya.

Di masa-masa training, para MLM-ers ini langsung disodorkan pada praktek kehidupan nyata. Misalnya, melakukan kesalahan, menghadapi ketakutan, lalu belajar dari kesalahan, memperbaiki dan mengulangi prosesnya. Menurut Kiyosaki, sebagai sekolah kehidupan nyata, perusahaan MLM yang sistem pendidikannya bagus bisa dijadikan program pengembangan pribadi jangka pendek terbaik.  ingat “jangka pendek” loh.

Namun sekali lagi perlu diingat bahwa mental masing-masing pelaku MLM adalah berbeda-beda. Ada yang kuat dan tahan menghadapi kehidupan nyata di dunia bisnis MLM tetapi di sisi lain ada juga yang merasa tidak kuat, tidak tahan lagi, atau merasa ini bukan jalan saya meraih sukses, dan sebagainya.

Memang tidak dapat dipungkiri jika kekuatan mental seseorang dalam menjalankan bisnis MLM sangat dipengaruhi oleh berbagai tantangan yang biasanya paling banyak dipengaruhi dari :

          Keluarga

Pelaku bisnis MLM yang pernah saya temui kebanyakan dari kalangan muda seperti mahasiswa. Banyak dari mereka mulai memberanikan diri untuk terjun ke dalam bisnis MLM. Tak jarang dari mereka yang melupakan kewajibannya sebagai mahasiswa. Tak heran jika jadwal kuliah mereka amburadul, banyak ijin, mbolos, tidak mengikuti ujian, cuti semester, yang intinya tidak fokus dalam menjalankan aktifitas kuliah. Maka dari itu banyak pelaku yang kebanyakan dari mahasiswa ini yang kemudian mengalami gagal kuliah seperti terkena sangsi dari pihak universitas dan kena DO (Drop Out).

Di sinilah mental si mahasiswa ini diuji, apakah lulus kuliah menjadi priorita snya, menjalankan bisnis MLM kah, atau dijalankan kedua-duanya dengan konsekuensi akan tidak fokus di salah satu bidang. Selain hal milih memilih tadi, hal lain yang tak kalah mempengaruhi adalah datang dari pihak keluarga dalam hal ini adalah oang tua. Terkadang bagi mereka keluarga bisa menjadi batu sandungan dalam menjalankan bisnisnya, yang mana tiap harinya akan dikejar-kejar target dari orang tua untuk menyelesaikan kuliah secepat mungkin. Bagi yang masih mahasiswa akan tahu maksud saya ini.

          Waktu Tersita Dengan Kegiatan MLM

Memang benar jika bisnis MLM tidaklah menyita banyak waktu, tetapi itu hanya teori saja. Kejadian sebenarnya di lapangan membuktikan hal yang lain dari pada teori yang diusung “tidak banyak menyita banyak waktu”. Sangat sulit jika menjalankan bisnis MLM selama 2 jam sehari misalnya. Padahal untuk memprospek seseorang saja bisa membutuhkan waktu lebih dari 2 jam. Bahkan ada yang mengatakan menjalankan bisnis MLM tuh harus full time dan tidak bisa setengah-setengah alias harus benar-benar fokus.

Pada awal menjalankan bisnis MLM memang begitu semangatnya, mengikuti training, acara presentasi, prospek sana prospek sini dilakukan tiap hari. Apa mau dikata jika menjalankan bisnis MLM harus mengorbankan kesenangan kita. Seperti yang dulunya tiap sore bisa nongkrong ama teman di café, nonton tv, main game, berkumpul bersama keluarga, anak,  terpaksa harus diganti dengan kegiatan MLM. Waktu yang tersita akibat kegiatan bisnis MLM bisa juga sebagai tantangan mental, semuanya tergantung bagaimana masing-masing pribadi dapat mengelola waktunya. Walaupun time is money tapi di sisi lain waktu adalah saat untuk santai.

          Disindir Teman

Teman bisa menjadi kawan dan bisa juga menjadi lawan, atau bisa juga menjadi dua-duanya. Tebakan saya kali ini pasti akan membuat anda akan menganggukan kepala. Apakah selama menjalankan bisnis MLM membuat anda dijauhi oleh teman anda, teman sekantor anda, teman sekuliah anda, pacar anda?

Pernahkah anda mengalami gurauan dari teman anda seperti ini : “Awas ada si anu, entar diprospek loh!”, “Pokoknya jangan ajak si anu, entar di sana malah ganggu acara kita”, “ Katanya bisnis MLM kok masih pake motor?”

Sindiran halus maupun sindiran yang kasar bisa jadi menyebabkan mental anda down yang berakhir dengan chek out dari bisnis MLM. Sejatinya jika anda memang berbisnis MLM bisa menjaga hubungan baik dengan teman anda atau siapa saja di manapun anda berada. Sekali lagi, semuanya tergantung dari anda bagaimana menjalankan bisnis MLM. Bisa menjaga suatu hubungan dengan seseorang adalah seorang MLM sejati.

          Cibiran dari Prospekkan

Nah ini yang paling banyak bisa membuat sesorang down atau nyerah menjalankan bisnis MLM, yaitu sewaktu memprospek seseorang entah itu teman, keluarga, atau orang tak dikenal. Jika mental anda tidak benar-benar kuat maka lenyaplah anda. Memprospek orang adalah kunci dari berbisnis MLM, maka perlu sebuah persiapan matang dalam menghadapi orang yang akan diprospek. Jangan sampai terjadi debat kusir yang berkepanjangan, menyindir satu sama lain, bahkan jangan sampai terjadi baku hantam.

Apalagi jika si prospekan adalah seorang MLM-ers di perusahaan MLM lain, wah bisa berabe bukan? pernahkah anda mengalami debat kusir dengan MLM-ers lain yang juga target prospek anda?

          Persaingan Dengan MLM-ers Lain

Dalam bisnis apapun akan menjadi hambar jika tidak ada pesaing. Pesaing di bisnis MLM adalah sesama MLM-ers namun beda perusahaan MLM yang dianutnya. Pastinya jika anda MLM-ers pernah mengalami persaingan dengan pelaku MLM lain dalam memprospek seseorang. Inilah saatnya anda untuk meningkatkan kualitas anda dalam berbisnis MLM. Ingat di manapun juga pesaing bisa sebagai suatu ganjalan bagi perkembangan bisnis anda tapi juga bisa sebagai pemicu semangat anda untuk terus, terus, dan terus meningkatkan nilai tambah di dalam diri anda. Apa yang mesti ditingkatkan dari diri anda, tak lain dan tak bukan adalah meningkatkan seni komunikasi anda, kepribadian anda, otak anda, cara berpikir anda, dan sebagainya.

 

Pernah saya melihat dan mendengar terjadi begitu sengitnya perdebatan yang terjadi baik si MLM-ers yang memprospek dan orang yang diprospek. Biasanya perdebatan di mulai dari tidak setujunya salah satu pihak atas pendapat yang diberikan entah dari si pemprospek maupun yang diprospek. Perdebatan yang sering terjadi adalah ketidaksetujuan atas bisnis MLM yang ditawarkan, cara memprospek yang kurang berkenan di hadapan sang prospek, mengundang atau mengajak yang terkesan menipu atau menjebak sang prospek, hal semacam inilah yang hendaknya bisa di minimalisir jika para MLM-ers sudah siap secara mental dalam menghadapi sang prospek, agar perdebatan tidak terjadi.

Ada baiknya jika pelaku MLM menguasai medan terlebih dahulu, jangan hanya sruduk sana dan sruduk sini. Persis seperti yang saya alami sewaktu saya masih kuliah, ada seseorang pemuda yang tiba-tiba mengajak kenalan. Waktu itu saya lagi santai di sebuah kafe sambil menunggu pesanan minuman saya datang. Walau terkesan kaget dan agak waspada, saya pun agak kurang ngeh dengan orang tersebut. Terkesan pasti ada maunya. Setelah kenalan dan bla bla bla, mulailah dia beraksi dengan hal-hal yang biasa dilakukan pelaku MLM pada umumnya.

Tanpa saya minta, dia berceramah ngalor-ngidul bahwa kita harus punya impian. Impian besar disusun atas impian-impian kecil. Pemuda tadi bercerita bahwa dia berani keluar dari kuliahnya karena ingin mengejar impiannya. Dia juga ingin naik mobil mewah milik sendiri. Mbangun aset yang banyak. Ongkang-ongkang kaki di rumah menikmati harta yang melimpah! Pemuda ini terus saja mencerocos nggak genah sambil menceramahi saya.

            Pada titik tertentu langsung saja saya cut dengan mengatakan :”Maaf anda menjalankan bisnis MLM apa ya?” langsung saya orang ini agak sedikit tersentak kaget, dan diapun menjawab dengan agak sedikit segan :”Saya menjalankan bisnis MLM ********”. Saya langsung menjawab dengan enteng :”Ooooo ikut ******** to!”. Nah berikutnya terjadilah suatu komunikasi yang agak sedikit seru antara saya (S) dan si Pemuda (P) tersebut :

P : “loh anda sudah tahu to, anda sudah gabung?”

S : “ Ya, saya sudah bergabung kok jadi member doank, soalnya supaya dapat diskon produk aja”.

P : “Kenapa gak jalani aja bisnisnya? Kan lumayan dapat bonus dan selanjutnya bisa dapat reward?”

S : “Ah enggak, soalnya saya lagi sibuk nyusun skripsi, nanggung tinggal bab 3 dan 4 hampir selesai,  toh saya ikut jadi member hanya sebagai pengguna produk saja kok. Gak kurang dan gak lebih.”

P : “Oooo gitu….”

S : Ya sudah mas, terima kasih atas perkenalan yang ada maunya ini. Maaf saya mau sendiri dulu. Nih mau nggarap skripsi.

 

Sambil bersalaman tanda perpisahaan, pemuda ini meminta maaf kepada saya karena telah mengganggu waktu saya.

Kesan awal yang ada maunya pasti dibelakangnya ada apa-apa. Kenapa masih pake gaya lama. Apakah berkenalan dengan seseorang harus langsung di presentasikan sebuah bisnis!! Padahal baru kenalan. Semoga pengalaman saya waktu itu hanya saya saja yang mengalaminya.